Menguatkan Perspektif Inklusif Calon Konselor,BKI Istaz Gelar Bedah Buku Bimbingan & Konseling Inklusi

BKI Istaz Gelar Bedak Buku Bimbingan & Konseling Inklusi

Gresik – Upaya penguatan pemahaman konseptual dan praktis mengenai pendidikan inklusif terus dilakukan oleh Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) Institut Al-Azhar Menganti Gresik melalui kegiatan Bedah Buku bertajuk Bimbingan & Konseling Inklusi: Model Bimbingan & Konseling Inklusi Anak Berkebutuhan Khusus dan Individu Marginal karya Dra. Mierrina, M.Si., Psikolog. Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi pembelajaran mata kuliah Bimbingan dan Konseling Inklusi yang dirancang selaras dengan Rencana Pembelajaran Semester (RPS).

Kegiatan bedah buku ini menjadi ruang akademik bagi mahasiswa untuk mendalami secara komprehensif landasan teoretis, kerangka konseptual, serta model layanan bimbingan dan konseling inklusif yang responsif terhadap keberagaman kebutuhan peserta didik. Buku karya Dra. Mierrina dipilih sebagai referensi utama karena menawarkan perspektif integratif antara pendekatan psikologis, pendidikan, dan sosial dalam layanan bimbingan dan konseling. Kegiatan ini dilaksanakan pada 19 Desember 2025 diikuti oleh seluruh mahasiswa BKI semester 3. Pelaksanaan bedah buku ini tidak sekadar dimaksudkan sebagai kegiatan membaca dan merangkum isi buku, melainkan sebagai strategi pembelajaran berbasis literasi akademik dan refleksi kritis. Seluruh bagian buku dikaji secara menyeluruh, mulai dari pemahaman dasar mengenai inklusi, karakteristik anak berkebutuhan khusus dan individu marginal, hingga peran strategis bimbingan dan konseling dalam membangun layanan pendidikan yang berkeadilan.

Namun demikian, diskusi dan analisis akademik lebih banyak diarahkan pada Bab 6 dan Bab 7, yang dinilai memiliki keterkaitan paling kuat dengan capaian pembelajaran mata kuliah. Kedua bab tersebut memberikan gambaran aplikatif mengenai model bimbingan dan konseling inklusi serta praktik layanan bagi individu yang berada dalam situasi kerentanan sosial dan pendidikan. Dalam pembahasan Bab 6, mahasiswa mengkaji berbagai model bimbingan dan konseling inklusi yang menekankan prinsip penerimaan, adaptasi, dan kolaborasi. Diskusi diarahkan pada bagaimana layanan bimbingan dan konseling dapat disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan spesifik anak berkebutuhan khusus, tanpa menghilangkan esensi kemandirian dan pengembangan potensi diri. Mahasiswa menelaah peran konselor dalam melakukan asesmen kebutuhan, menyusun program layanan yang fleksibel, serta membangun kerja sama dengan guru, orang tua, dan tenaga pendukung lainnya. Bab ini memberikan pemahaman bahwa keberhasilan layanan inklusif tidak hanya ditentukan oleh metode, tetapi juga oleh sikap profesional dan sensitivitas konselor terhadap keberagaman peserta didik.

Fokus pembahasan Bab 7 diarahkan pada layanan bimbingan dan konseling bagi individu marginal, yaitu kelompok yang kerap mengalami eksklusi sosial, keterbatasan akses pendidikan, serta stigma sosial. Mahasiswa mendiskusikan bagaimana konselor memiliki peran penting sebagai pendamping psikososial yang tidak hanya membantu individu mengatasi masalah, tetapi juga memperkuat daya lenting dan keberdayaan diri. Bab ini membuka ruang refleksi kritis bagi mahasiswa mengenai makna keadilan dalam layanan bimbingan dan konseling. Layanan BK inklusi dipahami bukan sekadar sebagai intervensi individual, melainkan sebagai upaya sistemik untuk menghadirkan lingkungan yang aman, manusiawi, dan menghargai martabat setiap individu. Sebagai bagian dari output mata kuliah Bimbingan dan Konseling Inklusi, kegiatan bedah buku ini dirancang selaras dengan RPS, khususnya pada capaian pembelajaran yang menuntut mahasiswa mampu menganalisis konsep dan model layanan BK inklusi, serta mengaitkannya dengan realitas praktik pendidikan dan sosial. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dilatih untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menyampaikan argumen akademik, serta menyusun refleksi berbasis literatur. Bedah buku menjadi medium pembelajaran yang mempertemukan teori, nilai, dan praktik dalam satu kesatuan proses akademik yang bermakna.

Kegiatan bedah buku ini menegaskan bahwa pendidikan calon konselor tidak cukup hanya berorientasi pada penguasaan teknik, tetapi juga pada pembentukan cara pandang inklusif, empatik, dan berkeadilan. Buku karya Dra. Mierrina menjadi sarana penting dalam menumbuhkan kesadaran bahwa bimbingan dan konseling memiliki tanggung jawab moral dan sosial dalam mendampingi individu dengan latar belakang dan kebutuhan yang beragam. Melalui diskusi yang mendalam dan reflektif, mahasiswa diharapkan mampu membawa nilai-nilai inklusi ini ke dalam praktik profesional mereka di masa depan, baik di lingkungan sekolah maupun di ranah layanan sosial lainnya. Melalui kegiatan ini, Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam Institut Al-Azhar Menganti Gresik menegaskan komitmennya dalam menyelenggarakan pembelajaran yang berorientasi pada penguatan literasi akademik, pengembangan karakter profesional, dan kepekaan sosial. Bedah buku tidak hanya menjadi tugas akademik, tetapi menjadi ruang pembelajaran intelektual dan etis dalam menyiapkan calon konselor yang mampu menjawab tantangan pendidikan inklusif di era modern. (Amalya).