BKI Istaz Observasi Lapangan di SD Muhammadiyah 1 Menganti, Gresik.

Gresik – Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) Institut Al-Azhar Menganti Gresik melaksanakan kegiatan praktik observasi lapangan sebagai bagian dari penguatan pembelajaran mata kuliah Bimbingan dan Konseling Inklusi. Kegiatan ini dilaksanakan di SD Muhammadiyah 1 Menganti Gresik, sebuah sekolah dasar yang secara konsisten menerapkan prinsip pendidikan inklusif dalam proses pembelajaran dan layanan pendampingan peserta didik. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 5 Desember 2025 dan diikuti oleh 15 mahasiswa dari kelas Bimbingan Konseling Islam semester 3. Kegiatan observasi lapangan ini berada di bawah bimbingan Dosen Pengampu Mata Kuliah, yakni Ibu Amalya El Fatihah Djovana, yang menekankan pentingnya pengalaman empiris bagi mahasiswa dalam memahami praktik pendidikan inklusi secara utuh. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep inklusi secara teoritis, tetapi juga mengkaji langsung implementasinya di lingkungan sekolah.
Praktik observasi dirancang sebagai bentuk pembelajaran kontekstual yang memungkinkan mahasiswa mengamati secara langsung berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan inklusif. Mahasiswa melakukan pengamatan terhadap lingkungan fisik sekolah, termasuk aksesibilitas, fasilitas pendukung siswa berkebutuhan khusus (ABK), serta penataan ruang belajar yang mendukung kenyamanan dan keberagaman kebutuhan peserta didik. Selain itu, mahasiswa juga mengobservasi proses pembelajaran di kelas inklusi, mulai dari komposisi siswa, karakteristik kebutuhan khusus yang ada, hingga strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Fokus pengamatan meliputi penerapan pembelajaran diferensiasi, adaptasi materi dan penilaian, penggunaan media pembelajaran yang variatif, serta pemberian instruksi secara bertahap sesuai kemampuan siswa. Salah satu mahasiswa BKI, Meylisa Suhartina, menyampaikan bahwa kegiatan observasi lapangan ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai dinamika kelas inklusi. Menurutnya, mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana guru berupaya memenuhi kebutuhan belajar setiap anak dengan pendekatan yang adil dan manusiawi.
Peran Guru dan Kolaborasi dalam Pendidikan Inklusi
Untuk memperkaya data lapangan, mahasiswa juga melakukan wawancara dan dialog dengan tenaga pendidik di SD Muhammadiyah 1 Menganti Gresik. Salah satu guru yang terlibat adalah Bu Dita, yang memberikan penjelasan mengenai praktik pembelajaran dan pendampingan siswa di kelas inklusi. Bu Dita menegaskan bahwa pendidikan inklusi membutuhkan kerja sama yang kuat antara guru kelas, Guru Pendamping Khusus (GPK), pihak sekolah, dan orang tua siswa. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendamping yang peka terhadap kebutuhan akademik, sosial, dan emosional peserta didik. Mahasiswa juga mengamati bagaimana interaksi sosial antar siswa terbangun secara positif, termasuk sikap saling menerima, kerja kelompok, serta upaya guru dalam menciptakan suasana kelas yang aman dan bebas dari perilaku diskriminatif. Sebagai mahasiswa Bimbingan dan Konseling Islam, fokus observasi tidak hanya tertuju pada aspek pembelajaran, tetapi juga pada peran layanan bimbingan dan konseling dalam mendukung pendidikan inklusi. Mahasiswa mengamati bentuk pendampingan individual, intervensi perilaku, serta koordinasi antara guru, GPK, dan pihak sekolah dalam menangani kebutuhan psikososial siswa. Kegiatan ini menegaskan bahwa calon konselor perlu memiliki perspektif inklusif yang kuat, yaitu mampu melihat peserta didik secara utuh dan berkeadilan. Pendidikan inklusi menuntut konselor untuk bekerja secara kolaboratif serta mengedepankan nilai empati, profesionalisme, dan tanggung jawab sosial.
Di akhir kegiatan, mahasiswa menyusun catatan lapangan dan refleksi akademik yang memuat temuan utama, kekuatan praktik inklusi di sekolah, kendala yang masih dihadapi, serta rekomendasi pengembangan layanan bimbingan dan konseling inklusif. Refleksi ini menjadi bagian penting dalam melatih kemampuan analisis dan pemikiran kritis mahasiswa berbasis data lapangan. Kegiatan observasi ini menegaskan bahwa pendidikan inklusi bukan sekadar kebijakan, melainkan praktik nyata yang memerlukan komitmen, kesadaran, dan kolaborasi berkelanjutan dari seluruh pihak. Melalui kegiatan ini, Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam Institut Al-Azhar Menganti Gresik menunjukkan komitmennya dalam menyiapkan lulusan yang unggul secara akademik, memiliki sensitivitas sosial, serta siap berkontribusi dalam pengembangan layanan bimbingan dan konseling yang inklusif dan humanis. Diharapkan, pengalaman observasi lapangan ini dapat menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam menjalani peran profesional sebagai konselor yang mampu menjawab tantangan pendidikan masa kini. (Amalya)
